Pelajari perbedaan RPA dan hyperautomation, lengkap dengan fungsi, contoh penggunaan, kelebihan, dan cara menentukan mana yang paling cocok untuk kebutuhan bisnis.
Di era transformasi digital, banyak perusahaan ingin mengurangi pekerjaan manual, mempercepat proses, dan meminimalkan human error. Dua istilah yang sering muncul ketika bicara otomatisasi adalah RPA (Robotic Process Automation) dan hyperautomation.
Masalahnya, banyak orang menganggap keduanya sama. Padahal, meskipun saling berhubungan, RPA dan hyperautomation memiliki cakupan yang berbeda. RPA bisa dibilang “pintu masuk” otomatisasi, sementara hyperautomation adalah evolusi yang lebih luas dan lebih strategis.
Artikel ini akan membahas apa itu RPA, apa itu hyperautomation, perbedaannya secara jelas, dan bagaimana menentukan mana yang lebih cocok untuk bisnis kamu.
1. Apa Itu RPA (Robotic Process Automation)?
RPA adalah teknologi yang memungkinkan “robot software” meniru aktivitas manusia di komputer untuk menjalankan tugas yang berulang.
Contoh aktivitas RPA:
- copy-paste data dari Excel ke sistem
- input data ke website atau ERP
- download laporan dan mengirim email otomatis
- memindahkan data antar aplikasi yang tidak terintegrasi
- melakukan pengecekan data berdasarkan rule tertentu
Ciri utama RPA:
- fokus pada otomatisasi tugas yang repetitif
- biasanya berbasis rule (aturan yang jelas)
- bekerja di level UI (klik, ketik, buka aplikasi)
- paling efektif untuk proses yang stabil dan terstruktur
RPA cocok untuk mempercepat pekerjaan administrasi yang biasanya memakan waktu dan rawan kesalahan.
2. Apa Itu Hyperautomation?
Hyperautomation adalah pendekatan otomatisasi yang lebih luas. Tujuannya bukan hanya mengotomatisasi tugas, tetapi mengotomatisasi proses end-to-end dengan menggabungkan berbagai teknologi seperti:
- RPA
- AI (untuk membaca data tidak terstruktur)
- machine learning (untuk prediksi dan keputusan)
- process mining (untuk menemukan bottleneck proses)
- workflow automation (untuk approval dan orkestrasi)
- integration tools (agar sistem saling terhubung)
Dengan hyperautomation, perusahaan bisa membangun sistem otomatisasi yang:
- lebih cerdas
- lebih adaptif
- mampu menangani proses kompleks
- bisa scale lebih besar
Hyperautomation biasanya dipakai untuk mengubah cara kerja secara menyeluruh, bukan hanya mempercepat pekerjaan kecil.
3. Perbedaan Utama RPA vs Hyperautomation (Versi Mudah)
Agar gampang dipahami:
- RPA = otomatisasi tugas repetitif
- Hyperautomation = otomatisasi proses secara menyeluruh dengan kombinasi teknologi
Kalau RPA itu seperti “robot yang bantu pekerjaan”, hyperautomation itu seperti “sistem otomatisasi yang mengatur seluruh alur kerja”.
4. Fokus dan Cakupan: Task vs End-to-End Process
RPA
Fokus pada aktivitas spesifik:
- input data
- memindahkan informasi
- menjalankan proses berulang
- bekerja berdasarkan aturan sederhana
Hyperautomation
Fokus pada proses besar dan alur lintas tim:
- menghubungkan berbagai sistem
- otomatisasi dari awal hingga akhir
- memproses data yang terstruktur maupun tidak terstruktur
- memakai AI untuk keputusan yang lebih dinamis
Jadi, RPA biasanya “satu bagian proses”, sedangkan hyperautomation mengorkestrasi semuanya.
5. Contoh Penggunaan dalam Bisnis
Contoh RPA
- tim finance memakai bot untuk input invoice ke sistem
- tim HR otomatisasi upload data karyawan ke platform
- tim operasional membuat bot untuk download laporan harian
Biasanya proses ini:
- repetitif
- tidak membutuhkan analisis mendalam
- punya langkah yang jelas dan sama setiap hari
Contoh Hyperautomation
- otomatisasi proses onboarding karyawan dari awal sampai siap kerja
- proses klaim asuransi dari submit dokumen → verifikasi → approval → pembayaran
- proses procurement dari request → approval → vendor selection → payment
Proses ini biasanya melibatkan:
- banyak departemen
- banyak sistem
- banyak data dan approval
- variasi kasus yang lebih kompleks
6. Kelebihan dan Kekurangan RPA
Kelebihan RPA
- cepat diimplementasikan
- ROI bisa terlihat cepat
- tidak perlu mengubah sistem besar
- bagus untuk mengurangi workload manual
Kekurangan RPA
- bot sensitif terhadap perubahan UI
- kurang efektif untuk proses yang sering berubah
- sulit scale jika terlalu banyak bot tanpa governance
- tidak cocok untuk data tidak terstruktur tanpa bantuan AI
RPA sangat powerful, tapi jika perusahaan hanya memakai RPA tanpa strategi, hasilnya bisa menjadi banyak bot “tersebar” yang sulit dikelola.
7. Kelebihan dan Tantangan Hyperautomation
Kelebihan Hyperautomation
- otomatisasi end-to-end lebih efektif
- bisa menggabungkan AI dan workflow untuk proses kompleks
- lebih scalable untuk transformasi jangka panjang
- membantu perusahaan lebih agile
Tantangan Hyperautomation
- implementasi lebih kompleks
- butuh perencanaan proses dan governance yang kuat
- perlu data yang lebih rapi
- butuh perubahan budaya kerja (change management)
Hyperautomation bukan sekadar proyek teknologi, tapi proyek transformasi bisnis.
8. Mana yang Lebih Cocok? Ini Cara Menentukannya
Gunakan RPA jika:
- proses kamu repetitif dan jelas langkahnya
- kamu butuh hasil cepat
- sistem perusahaan belum terintegrasi
- pekerjaan manual masih banyak dan memakan waktu
Gunakan Hyperautomation jika:
- kamu ingin otomatisasi lintas departemen
- proses kamu kompleks dan butuh orkestrasi
- kamu ingin AI membantu keputusan atau membaca dokumen
- perusahaan siap melakukan transformasi lebih strategis
9. Strategi yang Paling Realistis: Mulai dari RPA, Lalu Naik ke Hyperautomation
Banyak perusahaan memulai dari RPA karena lebih cepat dan lebih mudah. Setelah beberapa automasi berhasil, barulah perusahaan membangun:
- governance otomatisasi
- proses standar
- workflow approval
- integrasi sistem
- AI untuk proses yang lebih kompleks
Dalam banyak kasus, RPA adalah langkah awal yang tepat sebelum menuju hyperautomation.
Kesimpulan
RPA dan hyperautomation sama-sama bertujuan meningkatkan efisiensi, tetapi beda skala dan pendekatannya. RPA fokus pada otomatisasi tugas repetitif, sementara hyperautomation fokus pada otomatisasi end-to-end dengan gabungan teknologi seperti RPA, AI, workflow, dan process mining.
Jika bisnis kamu butuh hasil cepat untuk mengurangi pekerjaan manual, RPA adalah pilihan yang tepat. Jika bisnis kamu ingin transformasi proses besar yang lebih cerdas dan scalable, hyperautomation lebih cocok.
Yang paling ideal adalah memulai dari automasi sederhana, membangun fondasi, lalu naik kelas menuju hyperautomation secara bertahap dan strategis.
Baca juga :